Saturday, April 20, 2013

[Cerita] Mimpi Riani

Cerita has posted a new item, 'Mimpi Riani'




Mimpi Riani

Jun, pikirkan lagi.
Sudah, Yah. Keputusan saya sudah bulat!
Hmm , apakah Ibumu tahu? Apakah Ibumu setuju?
Deg! Jantung Riani serasa berhenti berdetak. Meskipun ia terlihat sedang sibuk
dengan pekerjaannya. Meskipun mesin jahitnya tetap berjalan. Sebenarnya, sejak
awal Riani telah menajamkan pendengarannya. Sengaja mengayuh mesin jahitnya
pelan-pelan dan mengikuti perbincangan di ruang tamu itu. Untunglah mesin
jahitnya terletak tak jauh di ruang tengah, hingga ia bahkan bisa melihat suami
dan putra tengahnya itu.
Malam itu, dengan dukungan Riani, Jun akhirnya memberanikan diri menyampaikan
keinginannya kepada ayahnya. Keinginan yang mungkin sangat berat untuk
dikabulkan oleh Sastro, suaminya. Walau sebenarnya, hal ini juga amat berat di
hatinya sendiri. Namun, Riani selalu tahu bahwa putra tengahnya ini berbeda dari
keempat anaknya yang lain. Riani selalu yakin, Jun bisa mewujudkan
mimpi-mimpinya.
Dek Rin , ke sini sebentar!
Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya. Panggilan khas Sastro kepadanya.
Y-ya. sahut Riani. Ia pun bergegas meninggalkan tempat kerjanya. Bergabung
dengan suami dan putranya. Mendapati Jun menduduk dalam-dalam dengan kedua
telapak tangan saling menggenggam erat.
Ini loh, anakmu . ucap Sastro mengadu. Masak dia mau meninggalkan rumah? Tidak
tanggung-tanggung lagi. Jun ini mau keluar pulau, Bu! Mending kalau cuma ke
Surabaya, ke Jember, atau ke Malang. Lha ini, Jun mau ke Bandung! Ke Jawa Barat,
Bu? Di sana tidak ada satu pun keluarga besar Wartodidjoyo. Lha, terus , dia mau
tinggal sama siapa nanti? Kalau ada apa-apa sama Jun, siapa yang akan
membantunya?
Yah , Jun sudah besar. Dia juga sudah biasa kerja kemana-mana. Hidup ngekos dan
sendiri, sahut Riani.
Sastro tampak mengela napas berat. Jadi, kamu sudah tahu niat anakmu ini? Kamu
mengijinkannya? tukasnya kemudian.
Riani mengangguk pelan. Kemudian menyentuh tangan Jun dan menggenggamnya erat.
Memberi kekuatan dengan tersenyum hangat.
Ta-tapi, Bu ? Suara Sastro terhenti.
Ibu yakin, Jun akan baik-baik saja, Yah.
***
Riani ingin sekali menunduk. Ia ingin sekali bungkam, seperti biasanya. Tapi
sore itu, ia merasa tak bisa. Ia tak bisa membiarkan saudara-saudara suaminya
seenaknya bicara. Seperti dahulu saat Sastro pertama kali mengenalkan dirinya
pada keluarga besar Wartodidjoyo. Memandang sebelah mata karena tingkat
pendidikannya yang rendah dan darahnya yang tak biru. Katanya, tak sebanding
dengan Raden Panji Sastro Wartodidjoyo. Katanya, kehadirannya dalam lingkungan
keluarga bangsawan ini hanya akan menyusahkan Sastro.
Riani merasa nasib Jun sedikit tak berbeda dengan dirinya. Jun tak seperti kedua
kakaknya, Yudho dan Seno, yang bisa melanjutkan kuliah dan mendapat gelar
sarjana. Ia ingat, Jun bersikeras tak mau kuliah kalau biayanya didapat dari
saudara-saudara ayahnya. Karena itulah Jun lebih suka bekerja. Mendapat
penghasilan sendiri dan bisa ikut membantu ayah ibunya.
Bodo! Kenapa Raden Arjuna Wartodidjoyo dibiarkan pergi jauh? geram Raden Ayu
Dijiah Wartodidjoyo. Ditegaskannya status kebangsawanan Jun untuk mengingatkan
siapa keponakannya itu. Ia tak mau gelar nigrat itu disepelekan.
Jun dapat kerjaan di sana, Mbak, jawab Sastro.
Huh, kerja apa? Raden Arjuna kan cuma lulusan SMU, Sas? Wong, kakak-kakaknya
saja yang sarjana kerjaannya sampai sekarang tidak jelas!
Dada Riani berdebar makin kencang mendengarnya. Telinganya terasa panas dan
mungkin warnanya memerah sekarang.
Mustinya kalian ajak saudara rembukan dulu! Kalau mau kerjaan, kami kan bisa
bantu. Tidak perlu pergi jauh-jauh begini? Sampai Raden Arjuna tidak sempat
pamitan sama kami lagi!
Kakak tertua Sastro itu terduduk lemas di kursi ruang tamu. Seakan tak bisa
menerima kenyataan ini. Kepergian Jun memang sengaja tak mereka kabarkan pada
keluarga besar. Karena mereka tahu akhirnya akan jadi begini. Apalagi Jun
termasuk salah satu keponakan yang mereka sayangi. Raden Arjuna itu bisa apa?
Coba dia nurut waktu disuruh kuliah. Dia bisa jadi PNS sekarang. Hidupnya akan
lebih terjamin di Madura, lanjutnya.
Jun bisa menulis, Mbak Dijiah, ucap Riani akhirnya. Tulisan Jun kan selama ini
banyak dimuat di majalah.
Iya, Mbak. Sekarang Jun kerja di Penerbitan buku loh, tambah Sastro.
Raden Ayu Dijiah Wartodidjoyo mendengus lagi. Dibentangkan kipas kertasnya, lalu
berdiri dan berkata lagi, Kuharap kalian tak menyesal nanti!
Kemudian ia melongos dan pergi.
***
Setengah tahun berlalu. Riani sudah merasa sangat rindu sekali pada Jun,
putranya. Di setiap shalat, Riani selalu mendoakan kebaikan untuk putranya itu.
Saat menjahit, Riani sering kali melirik komputer di dekatnya. Ya, tepat di
belakang meja jahitnya adalah tempat Jun dulu berkerja. Jun suka sekali menulis
cerita anak yang katanya banyak terinspirasi oleh dirinya. Dan saat Riani
membaca tulisan-tulisan Jun, ia selalu berhasil dibuat berbunga-bunga.
Hayo , ngelamunin Jun lagi, ya? tergur suara Sastro. Rupaya suaminya itu tidak
sedang menikmati tayangan sepakbola di televisi. Makanya, Ayah bilang juga apa?
Ibu itu paling tidak bisa jauh dari Jun. Selama ini kan Jun yang paling sigap
buat bantu-bantu Ibu di rumah.
Riani mengangguk membenarkan. Jun memang selalu menyanggupi semua perintahnya.
Mengantarkannya kemana-mana, bahkan menemaninya belanja ke dalam pasar. Anak itu
tidak pernah malu untuk membantu orangtuanya.
Dek Rin . Jun, kita suruh pulang saja ya? bujuk Sastro.
Jangan, Yah! sahut Riani cepat. Kasihan, Jun. Sekarang biarlah Jun mewujudkan
mimpinya. Jun itu sudah banyak mengorbankan dirinya buat kita dan
saudara-saudaranya.
Terus kalau Ibu kangen seperti sekarang, gimana? Jun itu kan kalau sudah asyik
kerja suka lupa pulang ke rumah. Apalagi sekarang, jaraknya jauh begitu?
Ya sudah, Ayah telpon Jun sekarang, cetus Riani.
Nyuruh Jun pulang saja, nih? goda Sastro.
Bukan. Cuma telpon kangen saja.
Riani tersenyum. Dalam hati ia bahagia dan bangga pada Jun. Semenjak bekerja di
Bandung, Jun selalu ingat untuk membantu masalah keuangan keluarga ini. Karir
putranya itu juga bagus di sana. Melebihi saudaranya yang merasakan bangku
kuliah. Bahkan Riani juga mendengar, Raden Ayu Dijiah Wartodidjoyo dan
saudara-saudara Sastro lainnya diam-diam suka membangga-banggakan nama Jun di
keluarga besar. Membandingkan dengan keponakan yang lain.
Riani benar-benar bersyukur selalu mendukung anak-anaknya untuk mewujudkan
mimpi-mimpinya. Karena itulah mimpi Riani juga. Mimpi yang diyakininya akan
terwujud tanpa memandang status atau tingkat pendidikan.***




cerita ini terinspirasi dari orang yang sangat saya cintai ini.



You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

No comments:

Post a Comment